Senin, 19 Maret 2018 12:30 WITA

OJK Minta 20 BPR/BPRS di Sulsel Tambah Modal Inti

Editor: Andi Chaerul Fadli
OJK Minta 20 BPR/BPRS di Sulsel Tambah Modal Inti

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta 20 Bank Perkreditan Rakyat (BPR)/BPR-Syariah di Sulselbar untuk menambah modal inti hingga batas waktu akhir 2019. Pasalnya, 20 BPR/BPRS tersebut memiliki modal inti di bawah Rp3 miliar. 

Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Zulmi mengemukakan, pihaknya mengigatkan agar pemilik saham BPR/BPRS memperhatikan pemenuhan kebutuhan permodalan. Pasalnya, kata Zulmi, besar kecilnya modal akan memengaruhi kualitas SDM dan kemampuan mengembangkan teknologi bank.

"Kekuatan modal bank akan sangat menentukan langkah pengembangan bisnisnya," kata Zulmi.

Permintaan tersebut disampaikan langsung dalam pertemuan dengan para Pemegang Saham, direksi dan komisaris seluruh BPR di Sulselbar, di Kantor OJK Regional 6, Jl Sultan Hasanuddin Makassar, pekan lalu.

Menurut Zulmi, hal tersebut sangat penting. Sebab, ada 20 dari 31 BPR/S yang ada, memiliki modal inti di bawah Rp3 miliar. Padahal, keterbatasan modal juga akan memengaruhi kemampuan pertumbuhan bank. 

Zulmi menuturkan, pemenuhan modal bisa dilakukan oleh pemegang saham sendiri atau mengundang investor baru. Selain itu modal bisa ditambah dengan melakukan merger atau konsolidasi.

Sementara, Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Sulawesi Selatan, Dalmasius Panggalo menuturkan, ketentuan itu pada prinsipnya demi kemajuan BPR. Agar bisa mengembangkan SDM, investasi IT dan penyaluran kredit. 

"Kalau modal terlalu kecil akibatnya biaya operasional akan lebih besar dari pada pendapatan operasional akibatnya BPR mengalami kerugian. Jika BPR mengalami kerugian, otomatis modalnya akan tergerus terus sehingga tidak bisa berkembang," jelasnya. 

Ia mengakui, kinerja bisnis BPR/S saat ini cenderung melemah. Sehingga, menurutnya untuk keluar dari kondisi tersebut, BPR harus kreatif dan inovatif dalam mencari market Share yang belum digarap oleh kompetitor dan atau meningkatkan kualitas pelayanan. 

Merujuk pada data terbaru OJK Regional 6 Sulampua, BPR di Sulselbar tahun 2017 masih tumbuh positif. Aset BPRS Sulselbar posisi Januari 2018 melanjutkan pertumbuhan positif 6,16 persen yoy atau 0,50 persen ytd menjadi Rp169,55 miliar yang terdiri dari aset BPRS Sulsel Rp169 miliar dan aset BPRS Sulbar Rp544 juta. 

Pertumbuhan aset tersebut, tambahnya, ditopang oleh pertumbuhan penghimpunan DPK 12,89 persen (yoy) menjadi Rp59,55 miliar, yang terdiri dari DPK yang dihimpun BPRS Sulsel Rp59,24 miliar dan BPRS Sulbar Rp314 juta. 

Kemudian untuk penyaluran pembiayaan mencatat pertumbuhan negatif -0,41 persen (yoy) menjadi Rp127,17 miliar, yang terdiri dari Penyaluran Pembiayaan BPRS Sulsel Rp126,34 miliar dan Penyaluran Pembiayaan BPRS Sulbar Rp818 juta.

Namun, kinerja intermediasi BPRS di Sulselbar tetap tinggi dengan FDR 221,05 persen posisi Desember 2017, dan 213,54 persen pada posisi Januari 2018.