Jumat, 16 Februari 2018 09:43 WITA

Ini Penjelasan Ilmiah tentang Hujan Lebat yang Turun saat Imlek

Editor: Abu Asyraf
Ini Penjelasan Ilmiah tentang Hujan Lebat yang Turun saat Imlek
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Imlek identik dengan hujan lebat. Banyak spekulasi kemudian muncul yang menghubung-hubungkan antara tahun permulaan tahun baru Tionghoa itu dengan air yang tercurah dari langit. Benarkah itu pertanda keberkahan?

Hujan sebagai berkah sebenarnya tidak hanya dipercaya orang warga Tionghoa. Dalam Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat dalam Alquran, juga disebutkan bahwa hujan adalah salah satu rahmat yang diberikan Allah subhanahu wata'ala kepada penduduk bumi.

Ayat-ayat tersebut antara lain pada Surah Az-Zukhruf: 11, “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”

Allah pula menurunkan hujan agar banyak orang mendapat kegembiraan setelah bertahun-tahun hampir putus asa menunggu. "Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura: 28)

"Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf: 9)

Keberkahan yang dimaksud adalah turunnya hujan, lebih banyak melahirkan kebaikan atau manfaat daripada mudharatnya. Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat memerlukannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiya’: 30)

Lantas, bagaimana dengan warga Tionghoa? Humas Kelenteng Xian Ma Makassar, Robby Anto mengatakan, pada dasarnya tidak ada kaitan antara hujan dengan Imlek. Menurutnya, hujan yang terjadi bertepatan dengan tahun baru Imlek hanya faktor kebetulan.

"Kan selalu pada bulan Januari dan Februari itu musim hujan, jadi wajar saja hujan," tuturnya.

Namun Robby mengakui bahwa biasanya ada ritual yang dilakukan untuk mengetahui apakah akan turun hujan Imlek atau tidak. Ada ritual makan makanan yang mirip onde-onde. Jika pada pada saat itu, tidak hujan, maka mereka meyakini bahwa hujan juga tidak turun bertepatan perayaan Imlek.

Keterangan Robby ini senada dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hujan yang turun nyaris pada setiap perayaan Imlek, bukanlah mitos. 

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG, Harry Tirto Djatmiko mengatakan, selama ini hujan selalu mewarnai Imlek karena tahun baru Tionghoa itu bertepatan dengan bulan Februari. Bulan itu memang puncak musim hujan di berbagai wilayah di Indonesia. Jika tahun baru Imlek bergeser ke Juni atau Juli. Harry menyebut kemungkinan tidak akan turun hujan.

"Karena Imlek itu sedang berada dalam di bulan puncak musim hujan untuk belahan bumi bagian selatan wilayah Indonesia karena Imlek selalu rata-rata di bulan Februari beberapa waktu belakangan," kata Harry.

Tetapi, lanjut Harry, musim penghujan di wilayah lain belum tentu sama. Ada kondisi geografis yang membuat beberapa wilayah memiliki waktu puncak curah hujan. "Iya (Februari) salah satu bulan musim penghujan, kalau di daerah-daerah lain ada waktu musim penghujannya. Makanya berbeda-beda tiap wilayah," pungkasnya.

Berita Terkait