Kamis, 01 Februari 2018 09:31 WITA

Bank BUMN Catat Laba Bersih Capai Rp65,73 Triliun di 2017

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Bank BUMN Catat Laba Bersih Capai Rp65,73 Triliun di 2017

RAKYATKU.COM - Empat bank BUMN, terdiri dari Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN mencatatkan laba bersih sepanjang tahun lalu sebelum diaudit (unaudited) mencapai Rp65,73 triliun. 

Capaian laba ini naik 22,81 persen (year on year/yoy) dari tahun 2016, yang mencapai Rp53,52 triliun.

Berdasarkan data Kementerian BUMN, yang dikutip dari CNN Indonesia, kenaikan laba tertinggi dicatatkan oleh PT Bank Mandiri Tbk, dari Rp13,81 triliun pada 2016 menjadi Rp20,63 triliun. Kemudian disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang naik dari Rp25,75 triliun menjadi Rp28,5 triliun.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatatkan kenaikan laba dari Rp11,34 triliun menjadi Rp13,62 triliun dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dari Rp2,62 triliun menjadi Rp3,02 triliun. 

Sepanjang tahun 2017, keempat bank BUMN ini mencatakan pendapatan usaha mencapai Rp262,76 triliun. Pendapatan tersebut naik 8,73 persen dari tahun sebelumnya Rp241,66 triliun. Pendapatan usaha terbesar dicatatkan oleh BRI sebesar Rp117,15 triliun, disusul oleh Bank Mandiri Rp78,71 triliun, BNI Rp45,21 triliun, dan BTN Rp21,69 triliun.

Meskipun mencatatkan kenaikan laba, BNI mengaku perolehan laba tahun 2017 tak mencapai target perseroan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. 

Direktur Keuangan BNI, Rico Rizal Budidarmo mengungkapkan, salah satunya yakni penurunan suku bunga secara bertahap yang dilakukan bank, sejalan dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

"Faktor utama adalah persaingan dengan pasar modal, bank harus bersaing (mencari dana) dengan kompetitif," ujar Rico. 

Sementara itu, BRI yang juga mencatatkan kenaikan laba di akhir tahun lalu, juga mencatatkan peningkatan rasio NPL ke kisaran 2,23 persen pada tahun lalu dari posisi tahun sebelumnya yang di kisaran 2,13 persen.

Direktur Manajemen Risiko BRI, Donsuwan Simatupang menjelaskan, terdapat beberapa langkah restrukturisasi yang tak berhasil dilakukan, sehingga membuat NPL bengkak. Diantaranya restrukturisasi, terutama terjadi pada kredit di sektor minyak dan gas (migas) serta perkapalan. 

"Misalnya, ada industri perkapalan itu belum me-recovery sehingga restrukturisasi yang kami lakukan belum berjalan dengan baik. Di sektor lain, migas juga terjadi," kata dia.