Jumat, 19 Januari 2018 17:03 WITA

Tiga Kesalahan Fatal yang Membuat Pelaku UMKM Sulit Berkembang

Editor: Abu Asyraf
Tiga Kesalahan Fatal yang Membuat Pelaku UMKM Sulit Berkembang
Rusdi Hidayat Jufri dalam sebuah kesempatan.

RAKYATKU.COM - Jiwa wirausaha di kalangan masyarakat mulai tumbuh. Itu ditandai dengan makin banyaknya orang yang mencoba berbisnis. Sayangnya, kebanyakan pelaku Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sulit berkembang. 

Praktisi bisnis, Rusdi Hidayat Jufri mengungkapkan, sedikitnya ada tiga kesalahan fatal yang dilakukan pebisnis pemula atau para pelaku UMKM. Itu yang membuat mereka banyak yang gagal.

Presiden GENPRO Distrik Sulsel ini menguraikan tiga kesalahan tersebut: 

1. Tidak memiliki keahlian 

Keahlian pada bidang usaha yang akan ditekuni memiliki peran penting. Tidak mesti sesuai dengan ilmu yang diperoleh dari bangku sekolah atau perguruan tinggi. Menurut Rusdi, setiap orang yang ingin berbisnis, dia harus menguasai jenis usaha tersebut secara detail.

Perlu pengetahuan yang lebih dalam tentang produk akan diproduksi atau dipasarkan. Jika tidak, maka produk yang dihasilkan dipastikan akan tidak akan menemui sasaran. Hasilnya, tidak akan sesuai dengan harapan.

Contohnya, jika seseorang ingin berbisnis butik atau pakaian, maka pelakunya mesti mengetahui lebih detail tentang jenis-jenis kain, jenis kain yang berkualitas, spesifikasi kain, model-model terbaru, hingga harga jual yang layak. 

Sebelum memulai usaha atau sambil menjalani usaha, seorang pebisnis harus terus belajar. Terus berburu ilmu dari berbagai pelatihan yang ada adalah salah satu cara untuk sukses dalam berbisnis.


2. Tidak mengenal pasar

Pengenalan terhadap pasar juga sangat menentukan dalam bisnis. Konsumen, kata Rusdi, punya karakter berbeda-beda sesuai dengan strata sosialnya. Konsumen ingin dilayani kebutuhannya. Mereka senang dengan produk yang mengerti kebutuhan mereka.

Sebelum memasarkan produk, katanya, pelaku bisnis sudah harus tahu, produknya cocok untuk kalangan mana saja. Kalau sasarannya kalangan menengah ke atas, maka kualitas produk, kemasan, hingga cara pemasarannya harus mengikuti selera kalangan yang menjadi sasaran.

Rusdi mencontohkan, bisnis nasi goreng. Bisa jadi, nasi goreng yang dijual sangat enak. Lokasinya pun di kawasan elite. Harganya Rp15 ribu per porsi. Faktanya, nasi goreng itu tidak berkembang. Tidak banyak peminatnya. Apa yang terjadi? Pedagang nasi goreng ini tidak mengenal pasar.

Kalangan elite, biasanya tidak memikirkan harga untuk kebutuhan makan. Walaupun enak, jika disajikan biasa-biasa saja, apalagi dengan harga murah, mereka kurang berselera. Ada kesan bahwa makanan yang murah, kemungkinan besar kurang enak. Mereka juga enggan makan di tempat yang kurang bersih.

Ketika nasi goreng yang sama pindah tempat ke lokasi yang lebih nyaman dan bersih. Lalu, disajikan dengan piring mahal dan berkualitas. Harganya pun jauh lebih mahal. Apa yang terjadi? Nasi goreng tadi jauh lebih laris. Konsumennya adalah kalangan menengah ke atas yang tidak peduli harga mahal. Padahal, kualitas nasi gorengnya sama dengan yang dijual di kaki lima tadi.

3. Sulit dapat modal 

Kesalahan lain pebisnis pemula atau pelaku UMKM, menyepelekan pembukuan. Menurut alumni S1 Teknik Elektro Unhas ini, laporan keuangan yang belum bagus membuat mereka kesulitan mendapatkan bantuan modal usaha. Kalaupun ada aset yang bisa dijadikan agunan, mereka hanya bisa mendapatkan pinjaman 30 persen dari total nilai aset.

Kesalahan lain, kebanyakan orang menganggap bahwa modal itu harus berupa uang tunai. Di era bisnis modern, modal tidak mesti dalam bentuk uang. Aset bisa berupa bangunan. Bisa juga berupa keahlian. Seseorang yang tidak punya modal berupa uang bisa memiliki saham pada sebuah usaha dengan hanya mengandalkan keahliannya.