Jumat, 19 Januari 2018 09:32 WITA

Industri Semen Over Supply, Bosowa Minta Pemerintah Peka

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Industri Semen Over Supply, Bosowa Minta Pemerintah Peka

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Marketing Division Head Bosowa Semen Febby Triadi mengatakan, pada tahun 2017 lalu, performa industri semen secara nasional memang tumbuh di angka 6 persen. Namun pertumbuhan tertinggi masih berada di wilayah barat Indonesia, seiring pembangunan infrastruktur jalan tol di wilayah tersebut.

"Wilayah tengah dan timur tidak terlalu besar. Bosowa semen masih tumbuh di bawah rata-rata nasional," akunya dalam media Ghatering, di Fireflies Caffee, Jl Pattimura Makassar, Kamis (18/01/2018).

Untuk proyeksi tahun ini, diperkirakan pertumbuhan industri semen masih berat. Asosiasi industri semen sendiri menargetkan pertumbuhan maksimal 7 persen dan Bosowa semen ikut menyesuaikan dengan angka tersebut. Ini mengikuti kondisi pasar dan pertumbuhan ekonomi. 

"Industri semen 'berdarah-darah' tahun ini. Kapasitas produksi di angka 100 juta ton, sementara daya serap pasar masih 60 juta ton. Masih ada over suplly," katanya. 

Untuk itu, pihaknya juga berharap agar pemerintah peka terkait persoalan over suplly ini. Asosiasi Industri semen sendiri telah meminta pemerintah menyikapi hal ini dengan menghentikan penerbitan izin pendirian pabrik baru, khususnya industri dari luar. Ini untuk menumbuhkan investasi di bidang industri semen.

"Kami sadar iklim investasi harus dijaga. Tapi investasi di bidang industri semen juga harus diperhatikan. Jadi tolong izin pembangunan pabrik dihentikan bukan fasilitas ya," katanya.

Jumlah industri di Indonesia sudah terlalu banyak. Dari 7 merek semen pada tahun 2013, kini telah tumbuh menjadi 24 merek. 
Khusus Jawa, terdapat 17 merek semen. Sedangkan di Indonesia bagian timur ada 10 merek.  

Kemudian, Industri semen berharap pemerintah juga dapat membantu akses distribusi. Ini dapat memangkas biaya distribusi yang menyumbang hampir 30 persen terhadap harga semen.