Sabtu, 04 Juni 2016 16:51 WITA

Pertumbuhan Aset Bank di Sulsel Melambat

Penulis: Nurhikmah
Editor: Almaliki
Pertumbuhan Aset Bank di Sulsel Melambat

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Triwulan I 2016, jumlah bank umum di Sulsel mengalami penambahan dibandingkan triwulan sebelumnya. Didasari data Bank Indonesia (BI), jumlah bank umum pada triwulan I 2016 tercatat sebanyak 52 bank, sedangkan jumlah BPR masih tetap sebanyak 29 bank.

Kendati Jumlah banknya bertambah, namun jumlah kantor mengalami pengurangan sebanyak delapan kantor cabang pada triwulan I 2016. Jumlah kantor keseluruhan mencapai 977 kantor, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya 985 kantor.

Deputi Kepala Kantor Wilayah BI Sulsel, Causa Iman Karana mengatakan kalau pertumbuhan total aset bank umum pada triwulan I 2016 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Aset perbankan tercatat sebesar Rp120,83 triliun, tumbuh 15,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni mencapai 16,01 persen.

Perlambatan pertumbuhan disebabkan oleh perlambatan aset di kelompok bank 
swasta nasional yang tumbuh 6,20 year on year (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai  8,71 persen. Sementara itu, total aset kelompok bank pemerintah tercatat tumbuh 21,85 persen yoy, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya.

Sedangkan total aset bank asing dan bank campuran justru mengalami menurun  23,57 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan kontraksi di triwulan sebelumnya yang mencapai 21,91 persen yoy.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum pada triwulan I 2016 mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Dana yang dihimpun mencapai Rp78,34 triliun atau tumbuh 17,95 persen lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 18,69 persen.

Perlambatan pertumbuhan disebabkan oleh perlambatan pada komponen giro yang tumbuh 26,98 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 64,69 persen. Namun demikian, tabungan mengalami pertumbuhan menjadi 13,01 persen pada triwulan pelaporan. Sementara deposito tumbuh 21,44 persen lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 11,61 persen.

Loading...

"Menurunnya DPK diperkirakan efek dari pencairan dana di rekening giro untuk pembiayaan proyek-proyek pembangunan," jelas Iman

Kredit yang disalurkan perbankan juga tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan I 2016. Kredit tercatat tumbuh 12,90 persen menjadi Rp96,31 triliun lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tumbuh 13,67 persen.

Secara penggunaan, perlambatan pertumbuhan disebabkan oleh perlambatan penyaluran kredit di kelompok investasi dan modal kerja. Kelompok kredit tersebut tumbuh masing-masing 21,59 persen yoy dan 14,44 persen yoy lebih rendah dari pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang tercatat masing-masing 26,47 persen dan 16,82 persen.

Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 7,53 persen lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 5,12 persen. Secara sektoral, perlambatan pertumbuhan kredit antara lain disebabkan oleh perlambatan penyaluran kredit di sektor industri pengolahan dan perdagangan yang tumbuh masing-masing 43,77 persen dan 14,47 persen pada triwulan I 2016, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya masing-masing 57,71 persen dan 16,25 persen.

Di sisi lain, kredit sektor listrik/gas/air mengalami penurunan hingga 19,81 persen di triwulan 1 2016.

Dengan pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK, indikator intermediasi perbankan (LDR) dan risiko perbankan (NPL) terlihat sedikit meningkat. Kedua indikator tersebut tercatat masing-masing 122,94 persen dan 3,36 persen pada triwulan I 2016, lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2015 yang tercatat masing-masing 121,05 persen dan 3,19 persen.

Loading...
Loading...