Rabu, 27 September 2017 18:59 WITA

Bright Gas, Solusi Gas Subsidi yang Salah Sasaran?

Editor: Almaliki
Bright Gas, Solusi Gas Subsidi yang Salah Sasaran?

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - GM Pertamina Regional VII, Joko Pitoyo mengatakan gas 3 kilogram yang merupakan gas bersubsidi yang diperuntukkan untuk masyarakat kurang mampu, salah sasaran. Nyatanya, di lapangan, kebanyakan digunakan masyarakat yang mampu.

Joko Pitoyo mengungkapkan, bahwa hal itu terlihat dari data Pertamina yang menyebutkan  pemakaian gas 3 kg di seluruh daerah Sulawesi, 92 persen dengan penjualan 1.500 ton per hari.

"Sisanya, masyarakat yang menggunakan gas non subsidi hanya 7 sampai 8 persen. Artinya lebih banyak gas subsidi yang dipakai, namun masyarakat tidak semuanya kurang mampu," ujar Joko, Rabu (27-9-2017).

"LPG 3 kg hanya diperuntukkan untuk masyarakat kurang mampu, hal itu sesuai dengan keputusan menteri ESDM, bahwa penggunanya adalah masyarakat dengan penghasilan maksimal Rp.1,5 juta. Di luar itu, tidak boleh."

Dengan begitu, Pertamina menawarkan bright gas yang berisi gas 5,5 kilogram. sehingga masyarakat yang mampu diminta untuk segera beralih ke bright gas tersebut. 

"Pemakaian di Sulawesi mengalami peningkatan rata-rata 5 persen, sejak diluncurkan setahun yang lalu. Proses ini masih bertahap, dan masih pengenalan, sehingga dengan pengembangan ini, kenaikan pemakai bisa lebih tinggi," tandasnya. 

Joko menambahkan, bahwa bright gas telah disosialisasikan ke seluruh provinsi yang ada di Sulawesi termasuk Sulsel. Yang disayangkan, karena pertamina tidak memiliki kebijakan membuat regulasi soal penggunaan gas subsidi tersebut.

"Pertamina sendiri tidak dapat membuat regulasi yang keluar karena hanya diberikan tugas oleh pemerintah untuk menyalurkan gas kepada masyarakat, bukan membuat aturan," tutupnya.