14 September 2017 10:36 WITA

Beralih ke Transaksi Non-Tunai

Editor: Andi Chaerul Fadli
Beralih ke Transaksi Non-Tunai

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Transaksi non-tunai mulai dikampanyekan. Beberapa lembaga keuangan dan otoritas negara menyiapkan langkah optimal agar gerakan ini merata di seluruh daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso mengatakan, secara nasional sudah ada 58 persen transaksi menggunakan non-tunai. Sementara di Sulsel, menurut dia, sangat rendah.

"Malaysia saja sudah capai 80 persen, Singapura 90 persen. Kita sangat tertinggal," ujarnya. 

Ketertinggalan ini, kata dia, mesti dikejar. Sebab sebagian besar transaksi di dunia sudah mengarah ke sistem dalam jaringan (daring).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah getol mengampanyekan transaksi non-tunai. Kepala Bidang Informasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulampua, Andi Muhammad Yusuf mengatakan, layanan agen bank telah diarahkan untuk melayani transaksi elektronik. 

"Namun mesti sosialisasi terus, masyarakat sangat butuh edukasi," jelas dia.

Salah satu fasilitas layanan masyarakat yang menggarap transaksi non-tunai adalah jalan tol. Potensi penggunaan transaksi cashless ini cukup besar.

Sayangnya, masih sedikit yang menggunakannnya. Direktur Teknik dan Operasional PT Jalan Tol Seksi Empat, Ismail Malliungan bahkan menilai, penggunaan transaksi non-tunai di tol perlu dipaksa, agar ada peningkatan.

Dari total 100 ribu lebih transaksi setiap harinya, kata dia, hanya 10 persen yang gunakan uang elektronik. Namun pada November mendatang, kebiasaan itu mesti dihilangkan. 

"Kita larang melintas di tol jika tak gunakan uang elektronik, itu berlaku secara nasional," tambahnya.

Pengamat Ekonomi Unhas, Marsuki DEA menjelaskan, penggunaan uang elektronik di negara maju sudah jadi budaya. 

Tapi Marsuki menyarankan, jika ingin terapkan transaksi digital, infrastruktur finansial mesti dibenahi. "Indonesia mesti perkuat infrastruktur dulu," ungkapnya.

Bank Mandiri juga menyiapkan 45.000 kartu tol elektronik atau E-Tol yang akan disebar di Makassar hingga akhir tahun. Langkah itu merupakan upaya mendukung percepatan elektronifikasi pembayaran tol yang akan dimulai 1 Oktober nanti.

Region Operation Head Bank Mandiri Regional X Sulawesi dan Maluku, Tonggo Marbun mengatakan, salah satu  strategi mempercepat distribusi adalah co-branding. Karena efektif memperluas penetrasi pemanfaatan uang elektronik. 

"Institusi perlu diajak untuk buat co-branding e-money. Manfaatnya sangat banyak," ujar Tonggo.

Penggunaan e-money tak hanya di tol. Tetapi bisa digunakan untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM), elpiji, hingga parkir. Khusus di Makassar, sudah ada 12 SPBU yang bisa menerima transaksi melalui e-money. 

"Tak perlu lagi gunakan uang tunai. Dengan begitu, penipuan hingga (uang) yang lusuh bisa diminimalisir," jelasnya.

Berita Terkait