10 July 2017 10:08 WITA

Tarif Listrik Sumbang Inflasi, Cabai Rawit Deflasi di Sulsel

Editor: Almaliki
Tarif Listrik Sumbang Inflasi, Cabai Rawit Deflasi di Sulsel

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat Inflasi di Sulawesi Selatan pada Juni 2017, ternyata cukup tinggi yakni 0,97 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang hanya mencapai 0,69 persen. 

Berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia Kanwil Sulsel, inflasi tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan harga terutama kenaikan tarif listrik. Kenaikan tarif listrik ini menyumbang inflasi hingga 0,23 persen. 

"Bulan ini, tarif listrik memang menjadi penyumbang inflasi terbesar. Bersama dengan sejumlah kelompok bahan makanan," kata Kepala BI Sulsel Kanwil Sulsel, Bambang Kusmiarso.

Selain listrik, disebutkan pula bahwa ikan bandeng turut menyumbang inflasi hingga 0,19 persen, daging ayam ras 0,05 persen, ikan cakalang dan pisang masing-masing 0,04 persen.

Sementara itu, nasi dan lauk, ikan layang, dan telur ayam ras ikut andil 0,03 persen. Emas perhiasan dan asam juga turut menyumbang 0,03 persen.

"Yang istimewa bulan ini adalah cabai yang selama ini menjadi salah satu yang paling aktif menyumbang inflasi, justru menyelamatkan Sulsel dengan menjadi komoditas penyumbang deflasi tertinggi," kata Bambang.

Statemen tersebut dilengkapi dengan data, bahwa cabai masuk dalam deretan komoditas penyumbang deflasi, bahkan di urutan teratas.

Berdasarkan catatan BI, cabai menyumbang deflasi hingga 0,12 persen. Disusul bawang putih dan kangkung yang masing-masing menyumbang 0,06 dan 0,02 persen.