26 May 2017 18:42 WITA

Perusahaan asal Swiss Diminta Ekspansi di Indonesia

Editor: Andi Chaerul Fadli
Perusahaan asal Swiss Diminta Ekspansi di Indonesia

RAKYATKU.COM - Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto mengajak sejumlah pimpinan perusahaan asal Swiss untuk meningkatkan investasi di Indonesia. Sekaligus bermitra dengan para pengusaha dalam negeri. 

Hingga saat ini, industri yang dikelola perusahaan asal Swiss merambah sektor farmasi dan kosmetika, olahan susu, makanan dan minuman, serta permesinan.

“Kami telah meminta agar mereka terus ekspansi karena seiring pemerintah Indonesia mengeluarkan paket-paket kebijakan ekonomi yang dapat memudahkan untuk menjalankan bisnis,” ujar Airlangga, dikutip dari situs resmi Kemenperin, Jumat (26/5/2017).

Beberapa perusahaan asal Swiss yang diajak, antara lain PT Nestle Indonesia, PT SGS Indonesia, Endress+ Hauser Indonesia, Givaudan, Sandmaster Asia Indonesia, Roche Indonesia, Novartis Indonesia, dan Syngenta Indonesia.

Para pihak perusahaan itu telah bertemu dengan Airlangga. Dalam tatap muka belum lama ini, kedua belah pihak berdiskusi mengenai upaya untuk menghilangkan hambatan. Baik dari sisi regulasi maupun produksi dari masing-masing sektor industri. 

“Misalnya, pembahasan daftar negatif investasi dan mendorong tingkat kandungan lokal pada bahan baku,” jelas dia.

Lebih lanjut, Pemerintah Indonesia telah menjalankan peraturan tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Perusahaan Secara Simultan Bagi Perusahaan Perdagangan. 

Aturan ini memudahkan pelaku usaha karena aplikasinya dapat dilakukan secara online dan simultan. Keduadokumen tersebut dapat terbit dua hari setelah aplikasinya dilengkapi.

Pada Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 11, Pemerintah Indonesia berkomitmen memacu pembangunanindustri farmasi dan alat kesehatan. Aturan ini termasuk pemberian insentif fiskal untuk perusahaanyang melakukan bisnis di bidang farmasi serta mendapatkan fasilitas perdagangan bebas di dalamnegeri. 

“Industri ini membutuhkan pasokan bahan baku yang kontinyu, seperti gula. Tentunya kami akan membedakan gula untuk industri dengan yang untuk konsumsi di dalam regulasinya nanti,” kata dia.