14 February 2017 08:21 WITA

Mentan Panen dan Ekspor Perdana Beras Varietas Inpari 33 di Merauke

Editor: Andi Chaerul Fadli
Mentan Panen dan Ekspor Perdana Beras Varietas Inpari 33 di Merauke

RAKYATKU.COM - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman bersama Gubernur Papua, Lukas Enembe, dan Bupati Merauke, Frederikus Gebze melepas ekspor perdana beras ke Papua Nugini. Sekaligus panen dan tanam padi varietas Inpari 33 di Distrik Tanah Miring, Merauke, kemarin. Produktivitas padi varietas Inpari 33 ini mencapai 8,5 ton perhektar.

Untuk beras yang diekspor merupakan beras kualitas premium sebanyak 1 truk dan ditargetkan 10.000 ton hasil panen di musim rendeng 2017. 

Mentan, Amran menegaskan, saat ini pertanian Papua sudah mengalami kemajuan, yakni telah mengeskpor beras varietas Inpari 33 yang dikembangkan Badan Litbang Kementerian Pertanian. Sehingga, pertanian di Papua khususnya di Merauke telah menggunakan teknologi pertanian mulai dari penggunaan alat mesin pertanian hingga penggunaan bibit unggul. 

"Hasilnya, dulu biaya pengolahan lahan mencapai Rp3 juta perhektar, tetapi dengan adanya mekanisasi pertanian sekarang hanya Rp1,1 juta perhektar. Artinya biaya pengolahan lahan turun 60 persen karena penggunaan teknologi," tegas Amran dalam keterangan tertulis yang diterima Rakyatku.com, Selasa (14/2/2017).

Terkait ekspor beras, Amran menjelaskan ekspor beras ini merupakan upaya dalam rangka menyejahterakan petani guna merealisasikan pembangunan dari pinggiran. 

"Dulu beras untuk kebutuhan di Papua diambil dari provinsi lain. Sehingga biaya beras mahal karena biaya angkutan ditanggung masyarakat. Dampaknya terjadi inflasi dan kemiskinan meningkat. Tapi sekarang mampu produksi sendiri," jelasnya.

Harga beras yang diekspor yakni Rp10 ribu perkilogram. Harga ini separuh harga beras impor dari Filipina, Thailand, dan Vietnam. 

"Mimpi kita dulu sudah jadi kenyataan yaitu ekspor beras ke negara tetangga, Papua Nugini. Kita sudah pecahkan telor. Kemudian luas lahan sawah kita tambah terus. Yang terpenting kita sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri selebihnya diekspor," tegas Amran.

Gubernur Papua, Lukas Enembe bangga atas pelepasan ekspor beras tersebut. Untuk itu, pemerintah Provinsi Papua akan terus berupaya untuk menjamin jalannya ekspor beras dilakukan setiap tahun. 

"Sebab, sudah puluhan tahun Papua mimpikan Merauke agar dapat menjadi lumbung pangan nasional," ujarnya.

Menurutnya, pencapaian ini atas bantuan dan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian selama ini yang telah memberikan bantuan mekanisasi pertanian, teknologi berupa benih dan sistem tanam dan bersama TNI telah membuka lahan sawah baru. Lahan sawah baru yang akan dicetak di tahun 2017 yakni 3.000 hektar.

"Kami bangga dapat bantuan mekanisasi dan teknologi di Merauke. Beberapa tahun lalu TNI sudah buka lahan baru, sehingga semakin banyak lahan sawah, petani tidak banyak menganggur dan menjadi petani modern. Gairah petani pun meningkat," ungkapnya.

Bupati Merauke, Fredrikus Gebze menambahkan pembangunan pertanian di Merauke saat ini cukup maju. Yakni melalui pertanian di Merauke, Indonesia mampu mengekspor beras ke Papua Nugini. 

Perlu diketahui, selama 30 tahun petani menjemur padi di pinggir jalan. Tetapi kini sudah memiliki penjemuran dan mesin pengering. 

"Hasilnya, petani kami hari ini derajatnya terhormat karena telah menggunakan alat dan teknologi pertanian yang canggih sehingga petani saat ini telah menjadi ahli petani," tutur Frederikus.

Perlu diketahui, luas lahan sawah dan lahan kering di Merauke sebanyak 64 ribu hektar. Lahan ini sudah dilakukan penanaman padi. Produksi beras di Merauke 110 ribu ton pertahun sementara kebutuhan hanya 25 ribu ton perhektar.

"Artinya produksi beras di Merauke surplus. Sehingga beras dari Merauke selama ini rutin memasok kebutuhan di beberapa kabupaten wilayah Papua, seperti Kabupaten Imapi, Bovebdigul, Mimika, Asmat, dan Jaya Pura," ungkap Fredrikus.