Rabu, 13 Mei 2020 18:02 WITA

'Pengusaha Seribu Akal' Jaenal Mappe Tidak Setuju PHK di Tengah Pandemi Covid-19

Editor: Nur Hidayat Said
'Pengusaha Seribu Akal' Jaenal Mappe Tidak Setuju PHK di Tengah Pandemi Covid-19
Jaenal Mappe (kemeja merah) saat menyerahkan bantuan APD untuk sebuah rumah sakit.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal tidak boleh menjadi opsi di tengah pandemi Covid-19. Itu menurut pengusaha ritel, properti, dan perhotelan, Jaenal Mappe.

Saudagar Bugis yang kini aktif di Departemen Pengembangan Usaha dan Ekonomi Kreatif Badan Pimpinan Pusat (BPP) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) itu berpendapat, kondisi saat ini belumlah sepadan dengan perjalanan panjang selama ini. 

Keuntungan besar, juga aset, sudah dikumpulkan dalam perjuangan bersama karyawan. "Ini adalah tantangan. Perekonomian nasional sedang sakit. Tetapi tidak lantas harus membuat kita kehilangan keberanian dan semangat," ujar Jaenal, Rabu (13/5/2020).

Pengusaha retail, properti, perhotelan, dan restoran yang berbasis di Gorontalo (perlahan juga di Makassar) itu mengajak para pebisnis untuk memanfaatkan waktu sekarang untuk merenung. Apakah selama ini kita lupa bersyukur, atas kemampuan yang Allah swt anugerahkan.

"Bertahun-tahun bahkan ada yang berpuluh tahun lamanya kita diberikan kemampuan dan kecerdasan dalam mengelola segala bidang usaha kita. Juga nikmat kesehatan dan kebahagiaan bersama keluarga, serta kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang cukup banyak dan aset yang cukup besar di dalam berjuang bersama seluruh karyawan kita," timpalnya.

Pria kelahiran Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulsel, 17 Maret 1960 itu mengingatkan, jangan sampai ujian dua tiga bulan membuat kita tidak ikhlas dan harus menyerah. 

"Karyawan yang bertahun-tahun berjuang membesarkan perusahaan langsung di-PHK massal seakan-akan tidak berjasa sebagai aset perusahaan selama ini. Kasihan mereka," ucap Jaenal.

Owner Arthama Hotel Group itu yakin, pengusaha bisa melewati ujian beberapa bulan ini dengan sabar dan bijak, kesuksesan yang lebih besar menanti di masa depan. "Ayo bangkit, bersama karyawan," ajaknya.

Ketua BPW KKSS Gorontalo itu menitip empat pesan. Pertama, saatnya kita berani ambil keputusan dan laksanakan keputusan itu. Lalu, tingkatkan kecerdasan analisis kita menggunakan pengalaman lapangan dan info-info. Ketiga, jujur dan komitmen kepada semua.

Poin keempat, lagi-lagi penegasan; "Hargai karyawan kita." Poin terakhir, keluarkan zakat harta sebagai kewajiban.

Pemilik nama lengkap Jaenal Mappe Middon itu memang tokoh senior dan guru bagi banyak pelaku usaha. Termasuk bagi Presiden Direktur PT Tazkiyah Global Mandiri, Ahmad Yani Fachruddin. 

loading...

Desember tahun lalu, Jaenal melakukan umrah special request bersama Tazkiyah. Dia memboyong kerabat dan sahabat. Jaenal memang selalu mempercayakan perjalanan ibadahnya ke tanah suci kepada Tazkiyah. Sudah bertahun-tahun. Sejak 2009.

Bukan hanya dia dan keluarganya. Para karyawan dari berbagai lini usahanya pun rutin diumrahkan. Lewat Tazkiyah juga. Dalam setahun, bisa ada hingga sepuluh orang karyawan yang dia fasilitasi umrah gratis. Salah satu cara dia mengapresiasi prestasi.

“Selain karyawan, sudah sebelas tahun beliau komitmen berangkatkan umrah imam masjid dan keluarga tak mampu,” ujar Ahmad Yani Fachruddin, Presiden Direktur Tazkiyah Global Mandiri, yang mengaku banyak mendapat inspirasi dan ilmu dari sosok Jaenal.

Jaenal memulai berwirausaha dengan menjadi pagandeng kampilo, berdagang dengan sepeda motor keliling Gorontalo pada 1983. Dari pasar ke pasar.

Pelan-pelan dia membangun kerajaan bisnis. Ada Mal Karsa Utama (mal terbesar di Gorontalo), usaha supermarket, department store, distributor, properti, perhotelan, dan restoran.

Khusus di bidang perhotelan, Jaenal mengibarkan bendera Arthama Group. Arthama Hotel sudah ada di Makassar (langganan Tazkiyah menginapkan jemaah untuk keperluan manasik dan pemeriksaan kesehatan sehari sebelum berangkat) dan Jakarta. Saat ini, Arthama sedang persiapan ekspansi ke Bali, Yogyakarta, dan Surabaya. 

Dalam buku “Jaenal Mappe: Saudagar dari Tanah Bugis” yang ditulis sahabat-sahabatnya, Jaenal dijuluki "pengusaha seribu akal". Julukan itu berasal dari bibir Jusuf Kalla, Wakil Presiden kala itu, sesepuh KKSS. 

JK terpikat dengan sebuah kisah soal Jaenal. Suatu hari pada masa awal perjuangan awal sebagai perantau di Gorontalo era 80-an, Jaenal memasuki sebuah kampung. Dia melihat ada "sarapo" (panggung pesta) yang baru berdiri. Otak bisnis pun mulai bekerja, mencari alasan agar bisa singgah jualan baju, celana, dan sarung. 

Trik jitu pun ditemukan, “kempeskan ban mobil” di dekat panggung pesta. Alhasil, dua orang kampung yang tadinya hanya membantu mengganti ban serep, seketika berteriak memanggil dan mengumpulkan penduduk kampung untuk melihat dan membeli pakaian yang dinilainya murah. Dan, laris manis.

Mendengar kisah Jaenal itu, JK tersenyum dan menimpalinya, “Jaenal ini, sosok saudagar. Memiliki seribu akal.”

Loading...
Loading...