Jumat, 27 Desember 2019 17:38 WITA

Kemenaker: Upah bakal Dihitung Per Jam, Bisa Kerja di Banyak Tempat

Editor: Nur Hidayat Said
Kemenaker: Upah bakal Dihitung Per Jam, Bisa Kerja di Banyak Tempat
Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah.

RAKYATKU.COM, JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengusulkan upah kerja dihitung per jam. 

Fleksibilitas itu hanya berlaku untuk pekerjaan dengan durasi waktu di bawah 35 jam per pekan. Sementara, upah bagi pekerjaan dengan durasi 40 jam per pekan akan tetap diberikan per bulan.

"Jam kerja kita kan 40 jam seminggu. Di bawah 35 jam per minggu, maka ada fleksibilitas nanti di bawah itu hitungannya per jam. (Upah bulanan) tetap ada, itu yang 40 jam per minggu," ujar Menaker Ida Fauziyah di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Jumat (27/12/2019).

Namun, Ida belum bisa mengungkap seperti apa formula perhitungan upah per jam bagi pekerjaan dengan durasi kerja di bawah 35 jam per pekan itu. Masih dikaji.

"Saya sounding (menjelaskan) dengan banyak teman-teman pekerja, mereka juga memahami itu dan bahkan dalam konteks itu dibutuhkan fleksibilitas. Pasti ada ketentuan formula penghitungannya nanti," tuturnya.

loading...

Ida berujar, wacana kebijakan upah per jam sejatinya diperlukan karena ada sejumlah pekerjaan yang sebenarnya tidak memiliki durasi kerja panjang. 

Selain itu, Ida ingin membuka peluang bagi pekerja untuk melakukan kerja di beberapa tempat. "Nanti basisnya per jam karena ada banyak pekerjaan yang beberapa jam nanti dia bisa bekerja tempat lain," ucapnya.

Wacana upah per jam muncul karena tengah dikaji untuk masuk ke dalam omnibus law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Lapangan Kerja. Presiden Joko Widodo (Jokowi) rencananya akan memberikan draf omnibus law itu ke DPR pada pertengahan Januari 2020.

Sumber: CNN Indonesia

Loading...
Loading...