Selasa, 03 September 2019 13:37 WITA

Mengintip Perang Kemewahan Maskapai Penerbangan

Editor: Nur Hidayat Said
Mengintip Perang Kemewahan Maskapai Penerbangan

RAKYATKU.COM - Singapore Airlines merupakan salah satu maskapai penerbangan yang mempunyai kualitas terbaik di dunia. Meski disuguhi dengan fasilitas yang baik dan mewah, tiket Singapore Airlines untuk kelas ekonomi masih cukup terjangkau dibanding beberapa maskapai flagship lainnya seperti Qantas, Lufthansa atau Emirates. 

Pada 2018 lalu, Singapore Airlines baru saja membeli lima pesawat terbang A380 baru dari Airbus, yang menelan biaya 350 juta euro per pesawatnya. Pembelian lima buah pesawat A380 oleh Singapore Airline dilakukan agar mereka bisa bersaing dengan rival mereka, Etihad dan Emirates di kelas penerbangan mewah.

Singapore Airlines terus meningkatkan layanan fasilitas di kelas first-class dan bisnis mereka untuk menyasar mereka yang ingin terbang dengan pelayanan kelas ningrat. Dari segi harga, tiket pesawat SQ juga cukup bersaing dengan rival- rivalnya seperti Etihad, Emirates dan Qantas. Apalagi baru- baru ini, maskapai penerbangan asal Negara Singa ini baru saja meluncurkan rute penerbangan jarak jauh Singapura-London yang menyasar para pelancor bisnis.

Untuk menyasar para pelancong kelas mewah, Singapore Airlines akan merombak ke lima pesawat A380 tersebut menjadi hotel terbang dengan fasilitas bintang lima. Di mana harga untuk merombak satu kursi kelas satu biasa menjadi kelas suite seharga merombak tiga kamar di rumah mewah. 

Hanya akan ada enam kabin yang diatur dalam konfigurasi 1 x 1.  Setiap suite memiliki tempat tidur full-bed flat berukuran 208 x 81 sentimeter yang terpisah dengan kursi dengan sandaran yang bisa disesuaikan dan lemari pakaian pribadi berukuran cukup luas untuk menyimpan bagasi kabin. 

Selain itu, setiap suite dilengkapi dengan layar TV 32 inci dengan layar kaca dan meja yang harganya sekitar £20.000 serta beragam gawai yang disediakan oleh maskapai sebagai bagian dari fasilitas penerbangan di kelas suite. Penumpang di kelas ini juga dapat memilih makanan yang setiap menunya merupakan hasil rekomendasi dari International Culinary Panel, di mana setiap bahan makanan di kelas tersebut diambil dari Kuhlbarra, pasar ikan komersial terbesar di Singapura.

Di kelas suite yang ditawarkan oleh Singapore Airlines juga terdapat ruang bersih- bersih untuk penumpang yang ingin terlihat dan fresh saat turun dari pesawat. Selain tempat shower pribadi, tidak lupa, Singapore Airlines juga memberikan piyama, sandal serta kaus kaki dari rumha- rumah mewah Prancis.

Untuk setiap pelancong yang berpergian dengan pasangannya, Singapore Airlines juga menyediakan suite yang dapat digabungkan sehingga keduanya dapat berbagi ruangan dan tempat tidur.

Kelas super mewah tersebut ada di lima pesawat A380 di armada Singapore Airlines untuk rute penerbangan Sydney-Singapura dengan kode penerbangan SQ221. Setiap suite tersebut dihargai 240 juta untuk sekali terbang. 

Kelas suite Singapore Airlines ini merupakan hasil pengembangan maskapai asal Singapura selama tiga tahun terakhir untuk menghadirkan kabin premium di layanan jasa penerbangan yang mereka tawarkan. 

Sebelumnya pada tahun 2014, maskapai asal Uni Emirates Arab, Etihad Airways menghadirkan layanan pesawat kelas mewah yang mereka sebut “better than first-class” dengan fasilitas seperti kamar tidur, shower pribadi dan lounge kecil. Etihad Airways membagi dua jenis kabin bernama First Apartment dan First Suite. 

Di First Apartment, terdapat kursi besar yan dilapisi kulit mewah yang nyaman dengan fasilitas seperti televisi 24-inch yang berisi ribuan hiburan dari lagu sampai film- film Hollywood, make-up mirror yang dilengkapi travel bag keluaran Christian Lacroix yang berisi produk perawatan kulit dari Omorovicza, serta menu makanan yang disajikan oleh koki- koki kelas internaisonal. Bagi pasangan yang berpergian bersama, dua kabin yang bersebelahan dapat dijadikan satu  sehingga membuat posisi kasur saling berdampingan.

Sedangkan di First Suite, Etihad Airways menawarkan pengalaman penerbangan yang lebih private. Setiap suite-nya dilengkapi pintu yang dapat ditutup untuk menjaga privasi penumpang dan kursi eksklusif keluaran Poltrona Frau yang dapat dibentuk menjadi tempat tidur. 

Peperangan untuk memberi pengalaman mewah dalam penerbangan tidak hanya dilakukan oleh Singapore Airlines dan Etihad Airways saja. Maskapai penerbangan asal Unie Emirates Arab lainnya, Emirates juga ikut meramaikan persaingan. Pernah menduduki peringkat empat sebagai Airline of The Year, runner-up Best First Class Airlines, dan posisi sembilan sebagai Best Business Class Airlines, Emirates tentu tak ingin ketinggalan dalam persaingan merai hati para pelancong yang ingin teerbang dengan fasilitas yang mewah. 

Di penerbangan kelas satu, Emirates menawarkan fasilitas privasi dengan pintu yang dapat dibuka-tutup dengan kursi yang dapat diubah menjadi tempat tidur. Sebagai tambahan, kelas Private Suite juga terdapat bioskop mini, mini bar, meja rias dengan amenity kit eksklusif dari Bvlgari serta makanan dengan menu yang dibuat oleh koki- koki internasional. 

Turunnya Penerbangan Kelas Satu

Maskapai kelas dunia seperti Singapore Airlines, Etihad Airways serta Emirates terus berlomba- lomba memberikan pengalaman terbang mewah di jasa penerbangan mereka. Tren memberikan pengalaman kelas mewah tersebut terus naik seiring dengan turunnya permintaan terbang di kursi kelas satu dalam beberapa tahun terakhir.

Tren penurunan ini telah terlihat sejak tahun 2016 lalu, meski pertumbuhan ekonomi di Asia sedang tumbuh pesat sayangnya permintaan untuk terbang menggunakan kelas sat uterus menurun dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada tahun 2018 lalu. 

Loading...

Maskapai penerbangan asal Korea Selatan, Korean Air yang menawarkan fasilitas mewah dalam setiap penerbangannya pada tahun 2016 lalu, pada tahun 2019 in imengumumkan bahwa mereka tidak akan menjual lagi tiket penerbangan kelas satu di setiap penerbangan mereka. Sebagai gantinya, Korean Air akan meng-upgrade kelas satu mereka ke menjadi "suite bisnis".

Tidak hanya Korean Air yang menghilangkan kelas satu dari pelayanan penerbangan yang mereka tawarkan. Beberapa maskapai penerbangan dunia lainnya juga menghilangkan kursi kelas satu dari layanan terbang mereka. Lufthansa dan British Aiways menghilangkan kursi kelas satu dan memaksimalkan kursi premium ekonomi sebagai gantinya.

Melihat tren tersebut dipercayai banyak maskapai penerbangan gagal menjual tiket kelas satu mereka karena harganya yang mahal dan fasilitas yang ditawarkan mirip dengan fasilitas yang terdapat di kelas bisnis. Sentimen ini didukung dengan data yang dikeluarkan oleh International Air Transport Association (IATA) yang menunjukan bahwa kursi kelas satu hanya menyumbang 12,5 persen penumpang di rute penerbangan wilayah Atlantik Utara. 

Garis yang kabur antara kursi kelas satu dengan kursi di kelas bisnis yang terus membaik adalah salah satu alasan kenapa kursi kelas satu menjadi semakin terpinggirkan. Fasilitas yang terdapat di kelas bisnis sekarang telah menyerupai fasilitas yang ditawarkan di kursi kelas satu. 

Sekarang, beberapa operator maskapai penerbangan memberi fasilitas kepada penumpang di kelas bisnis sama dengan yang ditawarkan di layanan kelas satu seperti prioritas untuk naik dan turun dari pesawat sebelum penumpang di kelas ekonomi naik. Ruang tunggu pribadi yang terpisah dengan ruang tunggu penumpang kelas ekonomi, kursi yang lebih lapang dan nyaman, serta mendapat pelayanan lain seperti minuman dan makanan gratis.

Operator maskapai penerbangan juga terus berlomba- lomba mengembangkan pengalaman terbang mewah yang membuat penumpang kelas satu beralih ke kelas suite. Faktor- faktor tersebut lah yang membuat penjualan tiket kelas satu menurun secara drastis.

Alih-alih, memaksa penumpang untuk membeli kursi kelas satu, operator maskapai penerbangan berinvestasi besar-besaran untuk menyenangkan sekelompok pelancong yang lebih kaya daripada orang-orang langka yang akan mengeluarkan lebih dari $25.000 untuk 

kemewahan yang berlebihan. Maskapai penerbangan menemukan bahwa mereka tidak membutuhkan kursi kelas satu karena penumpang tidak rela membayar uang berlebih untuk fasilitas yang bisa ditemukan di kursi kelas bisnis.  Operator maskapai penerbangan dunia ingin mengisi pesawat mereka dengan sebanyak mungkin penumpang yang membayar. Emirates baru- baru ini mengumumkan akan memaksimalkan kapasitas pesawat dengan kursi ekonomi dan kelas bisnis saja untuk penerbangan Dubai-London karena permintaan kedua kelas tersebut yang sangat tinggi.

Beberapa operator maskapai penerbangan juga membuat kelas baru di kabin pesawat mereka, seperti kelas premium ekonomi yang menawarkan pengalaman terbang lebih baik dibanding duduk di kelas ekonomi. Kelas ini banyak digunakan oleh para pelancong yang beralih dari kelas bisnis karena berkurangnya anggaran perjalanan dan mereka yang beralih dari ekonomi karena ingin mendapat pengalaman dalam penerbangan yang lebih baik. 

Singapore Airlines misalnya, menawarkan pelayanan yang cukup menggiurkan untuk membuat penumpang di kelas ekonomi pindah ke kelas premium ekonomi seperti, jarak antar kursi yang cukup luas, hiburan selama penerbangan seperti internet, film, program televisi, musik, permainan, dan aplikasi - handset video layar sentuh, dan monitor HD layar sentuh 13,3 inci yang dilengkapi dengan headphone peredam suara.

Faktor- faktor di atas tersebut terus membuat penumpang di kelas sat uterus menyusut dan membuat semua operator maskapai penerbangan di dunia mencari alternatif agar kursi- kursi di peswat mereka terisi penuh. 

Pertumbuhan pesat jumlah penumpang di seluruh dunia juga kemungkinan akan membentuk cara operator maskapai penerbangan untuk mempertimbangkan perbedaan kelas mereka, dengan jumlah orang yang terbang akan berlipat ganda menjadi 3,5 miliar penumpang pada tahun 2036 - Asia menjadi pasar terbesar yang belum digarap secara maksimal.

Data dari International Air Transport Association (IATA) melaporkan terjadi perlambatan dalam pertumbuhan lalu lintas penumpang angkutan udara secara global. Namun, terdapat kenaikan lalu lintas penumpang sebesar 5,3 persen pada Februari 2019 dibandingkan bulan yang sama di tahun 2018. 

Angka ini menunjukan pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari satu tahun, meskipun masih dalam tren permintaan dalam jangka panjang. IATA melaporkan bahwa perlambatan pertumbuhan ini terjadi karena beberapa hal, termasuk perang dagang yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan Cina serta ketidakpastian Brexit yang sampai sekarang masih belum menemukan ujungnya. 

Sementara itu, pertumbuhan penerbangan domestic di Indonesia juga mengalami penurunan dan perlambatan pertumbuhan akibat naiknya harga tiket pesawat sejak Desember 2018 lalu. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) penumpang pesawat pada April 2019, jumlah penumpang pesawat terbang domestik hanya mencapai angka 5,7 juta orang, turun 6,24 persen dibanding bulan sebelumnya.  

BPS memberikan beberapa indikasi turunnya jumlah penumpang pesawat terbang domestik seperti naiknya harga tiket pesawat serta infrastruktur dan pelayanan angkutan darat dan laut di Indonesia terus membaik.

Loading...
Loading...