Sabtu, 15 Desember 2018 17:43 WITA

Tahun Politik, Ekonom Unhas Ini Beber Prediksi Ekonomi 2019

Editor: Aswad Syam
Tahun Politik, Ekonom Unhas Ini Beber Prediksi Ekonomi 2019
Muhammad Syarkawi Rauf, memaparkan evaluasi ekonomi 2018 dan outlook ekonomi 2019 di STIE AMKOP, Sabtu (15/12/2018).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Menggunakan batik bermotif cokelat, Muhammad Syarkawi Rauf tampil di depan Civitas Akademika STIE AMKOP Makassar, Sabtu (15/12/2018).

Ekonom yang juga mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI ini, membeber bagaimana ekonomi Indonesia pada tahun politik 2019.

Menurutnya, situasi ekonomi 2019 akan diliputi ketidakpastian. Tetapi pemerintah memiliki langkah-langkah antisipasi, sehingga produksi/ketersediaan dan distribusi bahan kebutuhan  pokok tetap terjamin, baik jumlah juga harga yang terjangkau.  

Yang jelas kata ekonom Unhas ini, pemerintah dapat mempertahankan prestasi 2018 di tahun 2019, sehingga target inflasi 3,5 persen plus minus satu persen dapat tercapai.

Syarkawi memaparkan, perkembangan inflasi secara nasional dalam empat tahun terakhir, menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. Di mana pada 2013, inflasi masih sangat tinggi sebesar 8,38 persen dan 8,36 persen tahun 2014.

Penurunan inflasi sangat signifikan terjadi mulai tahun 2015, yaitu menjadi hanya sekitar 3,35 persen, turun lagi menjadi 3,02 persen tahun 2016, 3,61 persen tahun 2017 dan sekitar 3,23 persen pada Nopember 2018. 

Loading...

"Perkembangan inflasi yang semakin rendah, salah satunya disebabkan keberhasilan pemerintah mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok, khususnya harga bahan makanan yang selama ini menjadi penyumbang inflasi terbesar," ujar Syarkawi.

Penurunan inflasi yang sangat drastis kata dia, disebabkan ketersediaan bahan-bahan kebutuhan pokok. Khususnya beras, bawang putih, minyak goreng, terigu, gula pasir putih, cabai, bawang merah dan kebutuhan pokok lainnya, dalam jumlah serta waktu yang tepat, khususnya pada saat momen hari-hari besar keagamaan.

"Hal ini dapat dilihat pada data BPS, yang menunjukkan inflasi bahan makanan pada tahun 2014, masih sekitar 10,57 persen, turun menjadi 4,93 persen tahun 2015, 5,69 persen tahun 2016, 1,26 persen tahun 2017, dan diperkirakan hanya sekitar 1,69 persen tahun 2018," ujar Ketua KPPU periode 2015-2018 ini.

Lebih lanjut, Syarkawi membeber, andil bahan makanan terhadap pembentukan inflasi juga mengalami penurunan dari 2,06 persen tahun 2014, menjadi 0,98 persen tahun  2015. Lalu menjadi 1,21 persen tahun 2016, 0,25 persen tahun 2017, dan diperkirakan hanya 0,34 persen pada tahun 2018.

Inflasi yang semakin rendah, berdampak pada daya beli masyarakat yang semakin baik. "Artinya dengan peningkatan pendapatan yang lebih tinggi dari inflasi (secara tahunan terjadi penyesuaian upah), masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dalam jumlah yang lebih banyak," paparnya.

Dia bilang, hal ini juga berdampak terhadap penurunan jumlah penduduk miskin.
 
“Inflasi rendah memberi kesempatan kepada masyarakat berpendapatan tetap untuk menabung, sehingga tersedia cukup dana pihak ketiga di perbankan untuk membiayai investasi,” tegas Syarkawi.

“Kita patut memberikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kementan yang telah mampu menjaga produksi bahan-bahan kebutuhan pokok dalam jumlah yang cukup, selama empat tahun terakhir. Tanpa kerja keras kementan dan lembaga terkait lainnya, khususnya Tim Satgas Pangan Polri yang mengawasi distribusi bahan pangan, hal ini sulit dicapai,” pungkas Syarkawi.

Loading...
Loading...