Rabu, 31 Oktober 2018 13:54 WITA

Agen Laku Pandai Tersebar Luas, Warga Sileo Tidak Lagi Simpan Uang di Kaleng Biskuit

Penulis: Nurhikmah
Editor: Nur Hidayat Said
Agen Laku Pandai Tersebar Luas, Warga Sileo Tidak Lagi Simpan Uang di Kaleng Biskuit
Kehadiran agen Laku Pandai makin memudahkan masyarakat.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Suriati (37) baru saja menerima uang tunai Rp5 juta. Uang tersebut merupakan hasil penjualan batu bata yang diproduksi suaminya.

"Saya mau tabung Rp1 juta. Kami lagi kumpul-kumpul uang untuk biaya renovasi rumah," kata warga Dusun Sileo, Gowa, Sulawesi Selatan ini.

Tidak perlu waktu lama, perempuan berjilbab tersebut mengambil buku tabungannya dan berkendara ke salah satu agen BRI Link berjarak 200 meter dari rumahnya.

BRI Link, merupakan Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) yaitu Program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk penyediaan layanan perbankan atau layanan keuangan lainnya melalui kerja sama dengan pihak lain (agen bank), dan didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi.

Sudah tiga tahun ini, BRI Link hadir di Sileo sehingga Suriati dan warga lainnya tidak perlu jauh-jauh ke ibu kota kabupaten untuk menabung atau menarik uang.

"Sebelum ada agen (Laku Pandai) jaraknya paling dekat dari sini ke Limbung lima kilometer di situ ada satu kantor cabang BRI tapi kadang antre kalau di sana. Ada juga di ibu kota kabupaten di Sungguminasa jaraknya 10 kiloemter," kata Suriati.

Nur Jannah, salah satu warga Sileo yang menjadi agen BRI Link mengatakan sejak tiga tahun lalu menjadi agen dan sudah melayani sebanyak 40-50 nasabah per hari.

"Transaksinya beragam, mulai dari setor tunai hingga membayar tagihan listrik," katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan Budianto, agen BRI Link yang terdaftar dengan nama Kios Rara ini mengaku menerima 20-30 nasabah per harinya baik yang melakukan pembayaran listrik, angsuran cicilan, hingga menabung.

Mengubah Perilaku Masyarakat

Kehadiran agen Laku Pandai di pelosok Gowa tersebut telah mengubah perilaku warga dalam menyikapi uang mereka.

Warga mulai melek menabung dan bijak menggunakan uang. Akses ke perusahaan penyedia layanan jasa keuangan makin dekat, masyarakat pun kian dipermudah.

"Dulu karena jauhnya jarak antara kampung kami dan bank, saya lebih suka menabung di dalam celengan. Saya bikin celengan dari kaleng biskuit. Nanti terkumpul baru bawa ke bank. Itupun kalau berhasil terkumpul. Kadang bahkan tidak terasa uangnya habis saja dibelanjakan, diambil sedikit-sedikit," kata Daeng Ratang (65) warga Sileo lainnya.

Terhindar dari Lintah Darat

Selain kemudahan menabung dan tarik tunai, agen Laku Pandai juga sudah turut membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan membantu mengakses layanan pinjam Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk membantu masyarakat mengembangkan usahanya di bidang pertanian.

"Mayoritas masyarakat di sini adalah petani, yang punya usaha penjualan pupuk dan perlengkapan pertanian. Saya arahkan untuk ambil KUR untuk menambah modal usahanya," kata agen BRI Link Kios Rara.

Bahkan, sejak berdiri dua tahun lalu, puluhan masyarakat telah dibantu oleh Budi untuk mendapatkan akses KUR.  Mereka adalah petani yang umumnya membutuhkan modal kerja di musim tanam. 

"Alhamdulillah bisa mengubah nasib masyarakat. Mereka jadi terhindar dari lintah darat. Lintah darat ini  biasanya memberikan pinjaman modal musim tanam untuk petani, tapi dengan bunga sangat tinggi," katanya.

Sebaran Agen Laku Pandai di Sulsel 

Laku Pandai merupakan program OJK dalam rangka pemerataan literasi dan inklusi keuangan hingga ke pelosok. Program ini, disambut baik oleh masyarakat utamanya di Sulawesi Selatan. Terbukti sejak diluncurkan awal 2017 lalu, jumlah agen Laku Pandai di Sulsel terus meningkat.

Berdasarkan data OJK Regional VI jumlah agen Laku Pandai yang tersebar di Sulsel mencapai 17.408 agen per Agustus 2018, meningkat hingga 112,79 persen dari tahun sebelumnya di mana jumlah agen pada Agustus 2017 baru mencapai 8.181 agen.

Jumlah nasabah Laku Pandai juga meningkat 46,93 persen dari sebelumnya, mencapai 194.638 orang per Agustus 2017 menjadi 285.972 orang per Agustus 2018.

Sementara itu, jumlah tabungan tabungan mengalami penurunan dari Rp93, 9 miliar pada Agustus 2017 menjadi Rp78,8 miliar pada Agustus 2018. 

Kendati demikian, penurunan tersebut bukan lah hal negatif. Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Zulmi, mengatakan penurunan tabungan Laku Pandai ini mencerminkan makin luasnya jangkauan perbankan.

Agen Laku Pandai Tersebar Luas, Warga Sileo Tidak Lagi Simpan Uang di Kaleng Biskuit

Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Zulmi.

"Agen Laku Pandai memiliki batasan nominal dalam menghimpun dana. Dengan penurunan jumlah tabungan di agen Laku Pandai berarti , dana masyarakat terhitung di dana pihak ketiga (DPK) perbankan," kata Zulmi.

Zulmi juga menjelaskan, melalui Laku Pandai disalurkan bantuan sosial kepada masyarakat. Dan, jika dananya ditarik kata Zulmi, saldo dari tabungan Laku Pandai ini akan berkurang.

Bukan hanya jumlahnya yang meningkat, persebaran lokasi agen pun makin luas dan merata, bukan hanya terfokus di Makassar.

"Terbanyak memang di Makassar. Tapi itu karena jumlah penduduknya juga banyak. Tapi sekarang hampir seluruh wilayah sudah dijangkau," kata Zulmi.

Per Agustus 2018, agen Laku Pandai sudah ada di 24 kabupaten di Sulsel dengan persebaran, 1.301 agen di Bone, 1.215 agen di Maros, 1.096 agen di Pinrang, 1.036 di Sidrap, dan 1.011 di Gowa.

Sementara itu, di kabupaten lain jumlahnya masih di bawah 1.000 agen di ataranya, 959 agen di Pare-pare, 747 agen di Pangkep, 676 agen di Bulukumba, 669 agen di Soppeng, 667 agen di Luwu Utara, 648 agen di Barru , dan 636 agen di Wajo.

"Ada juga yang jumlah nya 500-an agen seperti di Palopo sebanyak 585 agen, Takalar 567 agen, Toraja Utara 553 agen, dan Sinjai 510 agen. Semuanya sebenarnya sesuai kebutuhan bank masing-masing. Kenapa di Makassar banyak, karena memang kebutuhan nya besar. Misalnya disekolah kan harus ada yang standby untuk menerima setoran simpanan pelajar," kata Zulmi.

Adapula kabupaten dengan jumlah agen antara 200-400 an agen di antaranya Enrekang 475 agen, Jeneponto 455 agen, Bantaeng 371 agen, dan Kepulauan Selayar 201 agen.

Zulmi juga menyadari, masih ada sejumlah wilayah yang agen Laku Pandai yang masih sedikit sehingga diharapkan segera perbankan dapat menjangkau lokasi-lokasi tersebut di antaranya, Luwu 32 agen, Luwu Timur 24 agen dan Tana Toraja 12 agen.

Bank yang Terlibat

Di Sulawesi Selatan cukup banyak bank yang ikut terlibat dalam program Laku Pandai yang diinisiasi OJK ini. 

Setidaknya ada delapan bank baik konvensional maupun syariah yang ikut terlibat, di antaranya Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Bukopin, Bank Sinar Mas, Bank Artha Graha, Bank Tabungan Negara, dan Bank BTPN Syariah. 

Target OJK

Sejalan dengan upayanya untuk meningkatkan iklusi keuangan masyarakat Sulsel menjadi 75 persen pada 2019 mendatang, OJK Regional VI punya target sendiri terkait persebaran agen Laku Pandai.

Zulmi menjelaskan, Road map Laku Pandai OJK diharapakan pada 2020 mendatang setiap desa sudah memiliki sekurang-kurangnya 1 agen Laku pandai.

"Tahun 2017 lalu harapannya di setiap kabupaten sudah ada. Di 2018 setiap kecamatan sudah ada dan sudah tercapai. Tahun depan 2019 di setiap kode pos sudah ada  dan 2020 setiap desa," katanya.

Namun, kata Zulmi, melihat kondisi di lapangan saat ini, target 2020 bahkan bisa diraih lebih awal. Pasalnya saat ini, di beberapa kabupaten di Sulsel, hampir  seluruh desa di juga sudah punya agen Laku Pandai.