Jumat, 05 Oktober 2018 10:41 WITA

Rupiah Kian Terkapar, Pengamat: Pembangunan Infrastruktur Harus Ditunda

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Rupiah Kian Terkapar, Pengamat: Pembangunan Infrastruktur Harus Ditunda
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Anas Iswanto Anwar mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), membuktikan bahwa kondisi perekonomian susah diprediksi.

Untuk itu, Anas berharap agar pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan lembaga otoritas moneter lainnya, untuk dapat secara maksimal mengontrol hal tersebut.

"Sebelummnya kita sudah lihat bahwa otoritas moneter bisa menjaga kurs rupiah disekitar diangka Rp 14.800. Makanya saya kaget, kok bisa naik lagi sampai melebihi Rp 15.000. Itu artinya, global ekonomi memang sudah tidak bisa kita prediksi," kata Anas.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS, diakui Anas, cukup rentan dan dapat berdampak terhadap kurangnya kepercayaan pasar terhadap Indonesia. Akibatnya, banyak spekulasi yang akan timbul dan membuat dollar semakin kuat.

"Kembali lagi, BI harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa ia tetap ada di pasar. Otoritas moneter masih bisa mengontrol hal ini," ujarnya.

Solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini, lanjutnya, yaitu dengan menjaga dan memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Sedapat mungkin, impor dikurangi.

Pemerintah dan BI juga harus menjaga, agar masyarakat tidak berbondong-bondong membeli dolar, dan jangan sampai masyarakat malah menyimpan uangnya di luar negeri.

Selain itu, disarankan agar Pemerintah Indonesia menunda sementara pembangunan infrastruktur yang memiliki muatan bahan baku tinggi.

Pasalnya, bahan baku infrastruktur Indonesia, saat ini masih mengandalkan bahan baku yang diimpor dari luar negeri. Penundaan ini harus dilakukan sampai kondisi perekonomian dunia betul-betul stabil.