Sabtu, 07 Juli 2018 16:19 WITA

Rupiah Terus Loyo, Ini Langkah Bank Indonesia

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Rupiah Terus Loyo, Ini Langkah Bank Indonesia

RAKYATKU.COM - Akhir ini kurs rupiah terhadap dolar AS terus tertekan. Bahkan, pada Selasa 3 Juli 2018, Rupiah tembur Rp14.418 per USD. Ini merupakan kondisi terlemah Rupiah sejak 2015. Hari ini, Rupiah berada di level Rp14.343 dan rupiah masih ditekan laju penguatan dolar AS. 

Meskibegitu, Bank Indonesia (BI) menyebutkan, masyarakat khususnya pelaku jasa keuangan tidak perlu panik dalam pelemahan rupiah tersebut.

Seperti yang dilansir dari Okezone,Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, pelemahan Rupiah harus diukur secara relatif dibandingkan dengan negara-negara lain. Saat ini pelemahan nilai tukar terhadap USD juga tengah terjadi atau dialami oleh negara-negara regional.

"Secara relatif, pergerakan nilai tukar rupiah tersebut masih terkendali (manageable) sebagai bagian dari fenomena global yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Tentu saja, lanjut Perry, BI tidak tinggal diam atas pelemahan rupiah yang terjadi. Menurutnya, BI telah menyiapkan langkah-langkah untuk menstabilisasikan pergerakan rupiah terhadap dolar AS, salah satunya dengan kebijakan suku bunga.

Memang dalam Rapat Dewan Gubernur Juni lalu Bank Sentral Indonesia telah menaikkan suku bunga acuannya atau BI 7-day (Reverse) Repo Rate 50 bps dari 4,75% menjadi 5,25%.

Keputusan tersebut merupakan langkah lanjutan BI untuk secara pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve menjaga daya saing pasar keuangan domestik terhadap perubahan kebijakan moneter sejumlah negara dan ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Selain itu, BI juga menyiapkan langkah lain dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Langkah yang dimaksud yakni melalui intervensi untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valuta asing (valas) maupun rupiah, serta melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar. Dengan langkah tersebut diharapkan bahwa laju pergerakan rupiah terhadap dolar AS menjadi stabil.

Terdapat beberapa faktor yang membuat nilai tukar rupiah terus melemah. Faktor tersebut lebih disebabkan oleh faktor eksternal yang berdampak pada Indonesia khususnya nilai tukar mata uang. Salah satunya yakni, kebijakan Bank Sentral Amerika yang akan menaikkan suku bunganya kembali.

Pada tahun ini, Bank Sentral Amerika yakni Federal Reserve semakin agresif menaikkan suku bunganya. BI sendiri memperkirakan suku bunga The Fed kemungkinan naik 4 kali, meskipun probabilitas lebih banyak 3 kali.

Selain itu, kebijakan fiskal atau pajak AS turut mempengaruhi mempengaruhi rupiah. Kebijakan fiskal AS dibawah kedudukan Donald Trump sangat agresif, mulai dari penurunan pajak, ekspansi fiskal yang lebih besar, sehingga defisit fiskal yang lebih tinggi menjadi 4% per PDB bahkan ada yang memperkirakan 5% per PDB tahun depan.

Meski demikian, BI meyakini Indonesia tidak akan menghadapi krisis moneter. Sebab, langkah yang disiapkan BI dianggap akan manjur untuk menahan laju dolar AS. Maka dari itu, Anda tidak perlu takut kondisi perekonomian anjlok, harga-harga mahal, dan imbasnya akan jadi krismon