Jumat, 06 Juli 2018 10:02 WITA

Dampak Perang Dagang AS, Ratusan Produk Ekspor Indonesia Terancam

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Dampak Perang Dagang AS, Ratusan Produk Ekspor Indonesia Terancam
Ilustrasi.Int

RAKYATKU.COM - Ratusan produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat terancam, setelah adanya  yang peringatan Presiden AS Donald Trump mengenai perang dagang. 

Peringatan ini dikeluarkan Trump karena neraca perdagangan AS defisit, di mana jumlah ekspor asal Indonesia lebih banyak. 

"GSP (Generalized System of Preference) kita sedang di-review. Ada sekitar 124 produk dan sektor yang saat ini sedang dalam review, termasuk di dalamnya kayu plywood, kapas, macam-macam," kata Ketua Apindo Bidang Hubungan Internasional dan Investasi, Shinta Widjaja Kamdani, yang dikutip dari Kompas, Jumat (6/7/2018) malam. 

GSP sendiri merupakan kebijakan AS berupa pembebasan tarif bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang. 

GSP menjadi satu-satunya tumpuan Indonesia untuk menjalin hubungan dagang dengan AS. Jika dilihat dari riwayatnya, program GSP telah berlangsung sejak 1976, lalu sempat dihentikan pada 2013, kemudian dilaksanakan kembali Juni 2015 silam. 

Jika kebijakan GSP ditiadakan, maka dampaknya akan langsung terasa ke neraca perdagangan Tanah Air karena akan ada tarif yang dikenakan jika Indonesia mengekspor ke AS. 

"Tekstil sih sebenarnya enggak masuk dalam 124 tadi, tapi itu juga akan di-review secara menyeluruh untuk lebih mendapatkan manfaatnya. Lalu juga ada produk-produk pertanian, udang dan kepiting kalau enggak salah," tutur Shinta. 

Berdasarkan data ekspor impor Indonesia yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 25 Juni 2018, tertera AS sebagai satu dari tiga pangsa ekspor nonmigas terbesar Indonesia. 

Ekspor nonmigas ke AS dari Januari sampai Mei 2018 tercatat sebanyak 10,91 persen dari total ekspor atau setara dengan nominal 7,43 miliar dollar AS. Jumlah ekspor nonmigas ke AS mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor nonmigas ke AS pada Januari hingga Mei 2017 tercatat hanya sebesar 7,17 miliar dollar AS.